Sayang, Terimakasih.... :) 176,15

Sampai hari ini aku masih sering heran tak percaya setiap kau pelan mengusap kepala saat aku sedang bertingkah menyebalkan. Kau selalu bilang aku seperti bocah yang keras kepala, ogah mendengar, sampai mau menang sendiri memang jadi kebiasaan. Tapi dengan semua keburukanku itu tak sedikit pun kau berniat meninggalkan.
Sayang, di luar sana banyak gadis yang lebih istimewa. Tapi terima kasih sudah bertahan, meski aku tak sempurna..

Bicara soal memulas muka aku bukan ahlinya. Penampilanku selalu seadanya. Anehnya, senyummu untukku tetap ada


Aku bangun dengan meloncat karena jam masuk kuliah sudah mepet, mandi secepat kilat, mengambil pakaian di tumpukan teratas, kemudian berangkat.
Di depan pintu, kau yang hampir setiap hari selalu menjemput ku dengan sabar menungguku sambil mengingatkan ku tentang barang bawaan ku supaya tak ada yang tertinggal. Saat aku menggerutu, senyummu justru kutemukan setiap kali mata kita bertemu. 
Begitu sering aku bertanya :
Kebaikan apa yang sudah kulakukan di dunia hingga mendapat pendamping sebegini baiknya? Bukankah aku masih sering bandel sebagai HambaNya?
Bersamamu rutinitas dan tugas kuliah tak lagi terasa begitu mengerikan. Aku bisa menjalaninya dengan tenang, sebab kehadiranmu terasa menggenapkan.

Tak sekali dua kali kita bertengkar seperti dua orang keras kepala. Tapi apapun yang terjadi, kau dan aku selalu saling menyesal.




Sebagai manusia biasa kau dan aku tetap bertengkar seperti pasangan selayaknya. Aku selalu keberatan jika kamu banyak waktu bersama band dan teman mu. Kau membuatku hampir gila, tapi padamulah kutemukan penerimaan yang tak ada duanya.

Pada bibirmu kutemukan penerimaan, bahkan kemauan ku kau turuti tanpa mengeluh


Di matamu kutemukan pemujaan.


Ketika aku sedang gemuk-gemuknya kau bahkan sama sekali tak protes. Kau tetap dengan hangat merengkuh pinggangku yang kini makin berisi. Kau kecup lembut kening dan pipiku yang diterdapat jerawat kecil di sana-sini. Kau mengatakan aku cantik, meski kuyakin aku tak lebih dari kaleng bekas yang ditendang kaki.
Kau selalu bilang kau tak butuh apa-apa selain rasa nyaman dan pengertian ku atas kegiatan mu. Oh Sayang, pria macam apa yang tak ingin wanitanya cantik ? Pria mana yang bisa bertekuk lutut hanya karena rasa nyaman ? Tak sedikitpun kau minta aku berubah untukmu, kau dukung semua keinginanku tanpa marah seperti yang ku lakukan ketika aku jarang menyetujui kegiatan mu.
Kau bilang padakulah kau selalu merasa pulang. Apa kau tau sayang ? sesungguhnya padamu jugalah aku menemukan pendampingan yang tak pernah gagal membuatku tersipu dan merasa beruntung.

Atas nama impian-impian kita, ijinkan aku mengucap syukur atas kehadiranmu di setiap doa. Pendampinganmu membuat rutinitas sebagai mahasiswa teknik yang dipenuhi tugas besar tak lagi terasa begitu menyiksa


Terima kasih Sayang, untuk telinga yang selalu tersedia bagi setiap perbincangan keluhan ku. Untuk saran mu dan kejujuranmu mengungkapkan pendapat — yang kadang menyakitkan — tapi penuh kebenaran. Bagi setiap perdebatan yang sering berakhir pada pertengkaran, namun membangun pondasi kita lebih tegar pada berbagai goncangan dan tetap memeluk ku mengatakan bahwa kamu yang salah.
Terima kasih Sayang, untuk genggaman di tangan setiap aku merasa sendirian. Untuk belaian lembut dikepala ku yang menenagkan ku. Untuk kesabaran menjelaskan dan mengajarkan ku tentang komputer yang kurang begitu ku kuasai seperti mu. Untuk kesediaan bangun pagi untuk bisa berubah lebih baik dan menjadi terbaik dimata ku. Untuk kelapangan hati menerima gadismu yang jauh dari kata sempurna dan manis ini.
Bersamamu aku tahu selalu ada yang layak diperjuangkan dalam hidup ini. Di sisimu aku selalu cukup punya alasan untuk bertahan, tak peduli bagaimana kerasnya sikutan cobaan menghampiri.

Maafkan aku Sayang, kau memang didampingi wanita yang egois. Satu yang tak perlu kau ragukan: cintaku tenang. Aku selalu mencintaimu dalam diam


Di luar sana masih banyak gadis yang lebih sempurna. Ia yang lebih pandai memulas muka, ia yang lebih pandai memanjakan perut dan hatimu dengan keahlian memasaknya, dan yang lebih pandai bermain musik sama seperti mu.
Kau selalu punya pilihan. Kau selalu bisa mencari yang lebih baik, lebih cantik, bahkan menemukan dia yang lebih pandai bermain musik seperti mu. Tapi padakulah kau memilih berhenti. Di tanganku kau selalu menyisipkan jari dan kembali.
Apapun alasannya, terima kasih karena kau berkenan berjalan di sisi ku sekian lama ini. Terima kasih, sebab kau sudah mencintaiku dengan setulus hati. Meski kekuranganku tak cukup jika dihitung dengan jari.
Tertanda                      
                      Gadis dengan beribu kekurangan, 

yang kau tahu. Mencintaimu








kutipan Nendra R.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan disore itu....

Untuk Pengalaman Hebat yang Tak Akan Terulang, Terima Kasih :)

Sajak dalam diam. Dan Kau tak akan pernah tau :)